Cerita Kader TB LKNU
Cerita Kader TB LKNU
Suara tahrim sayup terdengar di masjid sebelah timur rumahku. Dengan sedikit malas, kubuka mataku yang masih menyisakan begitu banyak kantuk. Aku menggeliat memaksa tubuhku untuk bangun dan menunaikan tugasku, menghadap robbq diwaktu subuh. Setelah selesai urusanku dengan robb ku aku mulai memulai mengerjakan tgasku sebagai ibu rumah tangga, menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan anakku. Tak terasa waktu hamper menunjukkan jam 07.00 WIB bergegas aku mandi berdandan, ada tugas lain yang akan aku harus tunaikan mendidik da mencerdaskan generasi penerus bangsa yaitu menjadi tutor di salah satu paud di kampungku. Setelah anak pertamaku dan suamiku berangkat, lalu kuajak si bungsu untuk ikut bersamaku belajar di paud yang selama ini menjadi ladang ibadahku. Aku terseyum ketika anak-anak menggerumutiku dan menyalami tanganku.
Jam 10.00 WIB tuntas sudah pekerjaanku Bersama anak didikku. Ku titipkan si bungsu kepada neneknya karna ada tugas lain yang masih harus aku tunaikan yaitu melakukan investigasi terhadap kontak serumah dan kontak erat dengan pasien TB. sebuah pekerjaan yang syarat akan resiko kukayuh sepedaku karna hanya itu satu-satunya fasilitas yang aku miliki, untuk menunjang semua aktivitas dan tugasku sebagai kader Tb aku tak pernah peduli walau terik matahari membakar kulitku, debu jalanan mengotori wajahku, tetap ku melakukan investigasi.
Bila ada suspek, kuberikan pengertian agar mau melakukan cek dahak. Aku selalu senang bila semua orang selalu menerima kehadiranku dengan baik memahami apa yang aku sampaikan dan melakukan cek dahak, bila hasilnya negatife aku bersyukur, tapi bila hasilnya positif aku slalu mengingatkan untuk disiplin meminum obat dan selalu berPHBS.
Sebagai manusia biasa seringkali timbul ketakutan dihatiku, karna yang aku temui mereka yang terkena TB. sebuah penyakit yang menular dan sangat ditakuti oleh semua orang tapi demi sebuah tugas dan missi kemanuasian aku relakan menempuh perjalanan dengan sepedaku walau tiap malam aku kesakitan karena pegal di kakiku.
Tidak banyak yang ingin aku sampaikan, hanya berbagi pengalaman dan mudah-mudahan menjadi motivasi dan inspirasi bahwa ketidakmampuan secara ekonomi dan ketiadaan fasilitas sebagai sarana pengabdian tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak peduli dengan sekitar. Jadikanlah diri kita menjadi sosok yang bermanfaat bagi orang lain, niatkan ini sebagai ladang ibadah ladang ibadah kita dan semoga menjadi sarana untuyk lebih mendekatkan kita pada roob kita. Amin tak lupa doaku untuk semua kader semoga allloh memberi kita dan keluarga kita kesehatan dan menjauhkan kita dari virus covid-19. Amin
Salam TOSS TB
Nama : Lisna Widaningsih
Kader : PKM Banjar 3


Post a Comment
0 Comments